Malingping, 6 Maret 2024 M/25 Sya’ban 1455 H
Oleh : H. Akhmad Jajuli
CitraBerita – Telah lama digaungkan slogan “Lebak Sehat” dan ” Lebak Cerdas”. Dua hal itu sangat penting dan sangat berkaitan. Untuk mewujudkan Warga Lebak yang Cerdas itu tentu harus diawali dengan Warganya yang Sehat. Untuk menjadi Sehat maka dibutuhkan tingkat Kecukupan Gizi bagi tiap-tiap Warga Lebak — yang pada zaman dulu biasa disebut “Empat Sehat Lima Sempurna.”
Asupan nutrisi (gizi dan kalorinya) harus sesuai dengan kebutuhan masing-masing warga. Kebutuhan warga akan nutrisi saat beraktivitas belajar (belajar atau kuliah) atau saat bekerja di kantor atau di kebun/sawah/ladang tentu akan sangat berbeda dengan kebutuhan nutrisi saat santai-santai di rumah pada hari libur atau hari meliburkan diri atau beristirahat.
Meskipun terdapat variasi kebutuhan nutrisi bagi tiap-tiap warga Lebak namun bentuknya pasti berupa Karbohidrat (nasi, jagung, singkong, ubi jalar, talas, roti), Protein Nabati dan Protein Hewati (tempe, tahu, santan, susu, ikan darat, ikan laut) dan Vitamin (sayuran dan buah-buahan,).
Dalam kesempatan ini kita akan bahas sekilas tentang kebutuhan Protein Nabati dan Protein Hewani di Kabupaten Lebak.
Kebutuhan dan Swasembada Sumber Protein
Jumlah Penduduk Kabupaten Lebak saat ini telah mencapai lebih dari 1.400.000 Jiwa. Penduduk sebanyak itu menyebar di 28 Kecamatan (terbagi lagi menjadi 340 Desa dan 5 Kelurahan). Menyebar mulai Kecamatan Cipanas di Utara hingga ke Kecamatan Cilograng di Selatan.
Hingga saat ini kebutuhan Warga Lebak akan Protein Nabati (Tempe, Tahu, Santan, dll) relatif sudah swasembada. Telah bisa dicukupi oleh hasil produksi Warga Lebak sendiri (meskipun para Pengerajin Tempe dan Tahu kebanyakan berasal dari wilayah Priangan dan Jawa). Untuk kebutuhan akan santan telah mampu dipenuhi dari kelapa-kelapa yang dihasilkan oleh kebun-kebun kelapanyang ada di wilayah Lebak Selatan (Malingping, Wanasalam, Cijaku, Cigemblong, Cihara serta Panggarangan).
Dengan telah terpenuhinya kebutuhan akan sumber Protein Nabati itu (Tempe, Tahu, Sangtan) itu maka Warga Lebak tidak perlu “mengimpor” dari luar daerah Lebak dan sudah bisa “menghemat” uang sekitar Rp 42.000.000.000,00 (dengan asumsi tiap-tiap warga Lebak menghabiskan uang sekitar Rp 30.000,00 per Warga per Tahun — khusus untuk mengkonsumsi Tempe, Tahu dan Santan).
Hal yang amat memprihatinkan adalah menyangkut kemampuan Warga Lebak untuk memproduksi sendiri sumber protein Hewani. Sebagian besar masih didatangkan dari luar Lebak, utamanya dari Sukabumi, Cianjur, Purwakarta dan Bogor, padahal sumber air di Lebak sangat melimpah. Demikian pula menyangkut ketersediaan lahan dan tenaga kerja (Calon Peternak). Kekurangannya terletak pada motivasi untuk menjadi Peternak Ikan, Unggas (Ayam, Bebek, Itik)) dan Hewan Ternak (Kambing, Domba, Sapi dan Kerbau). Berikutnya adalah soal keterampilan, permodalan dan pemasaran produk.
Lebak memiliki banyak sumber air yakni berasal dari sungai-sungai yang mengalir di wilayah Lebak : Ciujung, Ciberang, Cisimeut, Ciliman, Cimadur, Cisawarna, Cibinuangeun, Cisiih, Cilangkahan, serta sungai-sungai lainnya. Juga ada Waduk Cikoncang yang ada di Desa Katapang, Kecamatan Wanasalam. Terakhir, dan sangat besar, adalah keberadaan Waduk Karian yang berada di Kecamatan Rangkasbitung (dengan genangan meliputi Kecamatan Cimarga dan Kecamaan Sajira).
Andai saja Lebak telah mampu melakukan swasembada pengadaan Pangan Protein ini maka akan sangat banyak uang yang beredar di dalam wilayah Lebak sendiri dan dinikmati oleh warga Lebak sendiri. Uang Warga Lebak tidak akan banyak yang keluar dari Lebak.
Dengan asumsi tiap-tiap warga Lebak membutuhkan minimum 3 (tiga) Kilogram Ikan Darat (15 – 18 Ekor) per Tahun maka akan dapat “dihemat” anggaran sebesar Rp 126.000.000.000,00 — dengan asumsi harga Ikan Rp 30.000,00 per Kg. Ini baru kebutuhan terkait akan Ikan Darat (Ikan Mas, Nila atau Mujair, Lele, Gabus).
Untuk kebutuhan Telur, tiap tahun Warga Lebak mengeluarkan uang sekitar Rp 52.000.000.000,00 — dengan asumsi tiap2 warga butuh 2 (dua) kilogram telur ayam (32 – 36 butir) per Tahun dengan harga Rp 26.000,00 per Kilogram. Padahal sentra peternakan telur di Lebak sangat terbatas (masih terbatas di Kecamatan Banjarsari, Kecamatan Gunungkencana dan Kecamatan Sajira.
Untuk kebutuhan Ikan Laut tidak kurang dari Rp 56.000.000.000,00 dibelanjakan warga Lebak — dengan asumsi Satu Kilogram per Tahun dengan harga Rp 40.000,00 per Kilogram. Untuk menghasilkan Ikan Laut sebanyak itu maka perlu dilakukan penambahan Nelayan di daerah Binuangeun, Muara, Kec. Wanasalam, di daerah Sukahujan, Pondok Panjang, Kec. Cihara, di Desa Bayah Barat, Kec. Bayah, dan di daerah Kecamatan Cilograng.
Terakhir, terkait konsumsi Daging (Ayam, Itik, Bebek, Kambing, Domba, Kerbau dan Sapi). Harga Daging Ayam/Itik/Bebek sekitar Rp 45.000,00 per Kg. Harga Daging Kambing dan domba sekitar Rp 80.000,00 per Kg. Adapun harga Daging Kerbau dan Sapi berkisar antara Rp 100.000,00 – 130.000,00 per Kg. Andai dirata-ratakan tiap warga Lebak butuh Daging Satu Kilogram per Warga per Tahun, maka dibutuhkan anggaran sekitar Rp 112.000.000.000,00. Padahal masih sangat sedikit Peternak yg berada di daerah Lebak.
Tidak kurang dari Rp 346.000.000.000,00 tiap tahun dihabiskan warga Lebak untuk kebutuhan komoditas Sumber Protein Nabati dan Protein Hewani. Bayangkan saja andai uang itu berputar di wilayah Lebak — belum lagi dari sisi penyerapan tenaga kerja, pendapatan para pengusaha lokal (bibit, pakan, dll) dan pertumbuhan ekonomi Daerah.
Ke depan Program “Lebak Sehat” dan “Lebak Cerdas” akan mudah terealisasi apabila persoalan nutrisi dan gizi yang cukup ini dapat dipenuhi oleh Pemerintah Daerah Lebak bekerjasama dengan para Pemangku Kepentingan (stakeholder) di kabupaten Lebak — diperlukan tenaga2 yg terampil dan serius, lahan, permodalan, pemasaran, dan lain-lain.
(Penulis adalah Warga Banten Asal Kampung/Desa Cilangkahan, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak).





